October 15, 2026
srigopala
Bagikan:

Ketersediaan pakan yang berkelanjutan menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan usaha peternakan, terutama ketika pasokan hijauan tidak stabil pada periode tertentu. Menjawab persoalan tersebut, tim dosen Politeknik Negeri Jember (Polije) melakukan diseminasi teknologi biskuit pakan kepada Kelompok Ternak Sri Gopala, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut diarahkan untuk memperkenalkan teknologi pengolahan pakan yang praktis dan aplikatif, sekaligus mendorong peternak memanfaatkan bahan pakan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Kegiatan diketuai Adib Norma Respati, S.Pt., M.Sc., bersama tim yang terdiri atas Dr. Ir. Suci Wulandari, M.Si., IPM., ASEAN.Eng., Dr. Ir. Dadik Pantaya, M.Si., IPU., ASEAN.Eng., Alditya Putri Yulinarsari, S.Pt., M.Pt., dan Dr. Niswatin Hasanah, S.Pt., M.Sc.

Teknologi biskuit pakan diperkenalkan sebagai salah satu alternatif pengolahan berbagai bahan pakan yang tersedia di sekitar peternak. Melalui proses pencampuran dan pencetakan, bahan pakan diolah menjadi bentuk yang lebih padat sehingga lebih mudah ditangani, disimpan, dan diberikan kepada ternak.

Ketua tim pengabdian, Adib Norma Respati, mengatakan penerapan teknologi tersebut tidak hanya ditujukan sebagai kegiatan pelatihan, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan kapasitas peternak dalam mengelola sumber daya pakan secara mandiri.

“Teknologi biskuit pakan kami perkenalkan sebagai salah satu alternatif untuk membantu peternak mengelola bahan pakan yang tersedia menjadi pakan yang lebih praktis dalam penyimpanan dan pemberian. Harapannya, peternak dapat menerapkan teknologi ini secara mandiri sesuai dengan potensi bahan pakan yang ada di lingkungan Sri Gopala,” jelas Adib.

Belajar dari Teori hingga Praktik

Diseminasi teknologi dilakukan melalui pendekatan teori dan praktik. Peserta terlebih dahulu mendapatkan materi mengenai pentingnya manajemen pakan, pengenalan teknologi biskuit pakan, bahan yang digunakan, serta formulasi pakan.

Setelah itu, anggota kelompok ternak terlibat langsung dalam praktik pembuatan biskuit pakan. Mereka mengikuti tahapan mulai dari penimbangan bahan, pencampuran, pencetakan hingga penanganan produk yang dihasilkan.

Pendekatan praktik secara langsung tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman sekaligus keterampilan peternak. Dengan demikian, teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan oleh kelompok setelah program selesai.

Anggota Kelompok Ternak Sri Gopala, Mahmud, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, praktik langsung membuat anggota kelompok lebih mudah memahami tahapan pembuatan biskuit pakan.

“Kegiatan ini memberikan pengetahuan baru bagi kami mengenai pengolahan pakan. Dengan adanya praktik langsung, anggota kelompok menjadi lebih memahami tahapan pembuatan biskuit pakan dan diharapkan dapat mencoba membuatnya secara mandiri,” ujarnya.

Dorong Pemanfaatan Bahan Pakan Lokal

Selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kemandirian kelompok dalam penyediaan pakan. Pemanfaatan bahan pakan lokal menjadi salah satu aspek yang dapat dikembangkan agar peternak tidak sepenuhnya bergantung pada pakan yang tersedia secara komersial.

Bentuk biskuit pakan juga memberikan alternatif dalam pengelolaan pakan karena produk lebih mudah ditangani dan disimpan. Pengelolaan pakan yang lebih terencana diharapkan dapat membantu peternak memenuhi kebutuhan nutrisi ternak secara lebih teratur sehingga mendukung produktivitas usaha peternakan.

Anggota tim pengabdian, Alditya Putri Yulinarsari, S.Pt., M.Pt., mengatakan teknologi tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya sebagai pakan untuk kebutuhan internal peternak, tetapi sebagai bagian dari pengembangan usaha kelompok.

“Melalui pembuatan biskuit pakan, bahan-bahan yang tersedia di sekitar peternak dapat diolah menjadi produk pakan yang lebih bernilai. Selain dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan ternak sendiri, ke depan produk ini juga berpotensi untuk dikembangkan dan dipasarkan sehingga dapat menjadi salah satu sumber tambahan pendapatan bagi peternak,” jelas Alditya.

Tim pengabdian menilai keberlanjutan program membutuhkan pendampingan dan evaluasi secara berkelanjutan. Kelompok ternak diharapkan dapat mengembangkan teknologi biskuit pakan sesuai dengan kondisi serta potensi bahan pakan yang tersedia di wilayahnya.

Baca juga: Pelatihan Teknologi Tepat Guna untuk Optimalisasi Potensi Jagung di Desa Bubulan

Dengan demikian, diseminasi teknologi biskuit pakan tidak hanya berorientasi pada menghasilkan produk pakan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas peternak dalam menerapkan teknologi pengolahan pakan secara mandiri. Program tersebut menjadi bagian dari upaya Politeknik Negeri Jember menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung dan mendukung pengembangan usaha peternakan di tingkat kelompok.

About Author


Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *