May 9, 2026
20250827_123235 (1)
Bagikan:

Kelangkaan pakan ternak di musim kemarau selama ini menjadi masalah klasik bagi para peternak sapi di Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Mengandalkan jerami padi dan dedak saja tak cukup menjaga produktivitas ternak, bahkan membuat sapi sulit berkembang optimal.

Menjawab persoalan itu, tim dosen dari Politeknik Negeri Jember (Polije) bersama Universitas Jember menggulirkan program pengabdian masyarakat melalui penerapan teknologi silase berbasis Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA). Pengabdian kepada masyarakat ini merupakan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun pendanaan 2025.

Teknologi ini mengolah limbah pertanian – mulai dari jerami, batang ubi, hingga tongkol jagung – menjadi pakan fermentasi bernutrisi tinggi yang tahan disimpan lebih lama.

“Dengan silase, peternak bisa memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini terbuang. Hasilnya, ketersediaan pakan lebih stabil dan produktivitas ternak bisa meningkat,” kata Ketua Tim Pengabdian, Satria Budi Kusuma.


Libatkan Kelompok Ternak

Program yang didanai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini melibatkan 20 anggota Kelompok Ternak Desa Glundengan. Mereka mendapat pelatihan mulai dari pengenalan pakan alternatif, praktik pencacahan bahan dengan mesin chopper, hingga penyimpanan dalam drum silase.

Tak hanya dosen, sejumlah mahasiswa juga terlibat langsung sebagai moderator dan pendamping lapangan. Menurut Satria, keterlibatan mahasiswa menjadi bentuk nyata pelaksanaan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di bidang peternakan.

Ketua Kelompok Ternak Desa Glundengan, Abdur Rosyid Rahman, mengaku program ini sangat membantu anggotanya.

“Selama ini kami hanya memberi pakan seadanya, terutama jerami. Dengan adanya pelatihan silase, kami jadi tahu cara mengolah pakan supaya lebih bergizi dan bisa disimpan untuk musim kemarau,” ujarnya.


Jember, Lumbung Sapi dan Jagung

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, populasi sapi potong di Kabupaten Jember mencapai 273.945 ekor pada tahun 2022, menjadikannya salah satu daerah dengan populasi sapi tertinggi di provinsi ini.

Di sisi lain, Jember juga dikenal sebagai sentra produksi jagung. Luas panen jagung mencapai lebih dari 91 ribu hektar dengan total produksi 504 ribu ton dalam satu musim panen. Dari angka itu, limbah jagung berupa tongkol, batang, dan daun menyumbang sekitar 80 persen biomassa yang kerap terbuang percuma.

Dengan adanya teknologi silase, limbah pertanian tersebut kini bisa dikonversi menjadi pakan bernutrisi untuk sapi.


Target Mandiri dan Berkelanjutan

Selain pelatihan, tim dosen juga menyiapkan strategi keberlanjutan program dengan pendampingan rutin setiap bulan. Ke depan, peternak ditargetkan mampu memproduksi silase secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pakan komersial hingga 30 persen, sekaligus meningkatkan pendapatan dari usaha ternak sapi.

Program ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam pengentasan kemiskinan, peningkatan ketahanan pangan, serta konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.

About Author


Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *