
JEMBER — Tim dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) telah melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelompok Ternak Damar Wulan, Desa Umbulrejo, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, pada Selasa, 8 September 2026. Program bertajuk “Strategi Peningkatan Kualitas Genetik Ternak melalui Buck Rotation System dan Konservasi Pakan Berkelanjutan” itu didanai PNBP Polije lewat skema UMKM Binaan tahun anggaran 2026.
Kegiatan ini digagas untuk menjawab dua persoalan yang selama ini dihadapi peternak ruminansia di Damar Wulan: tingginya risiko perkawinan sedarah atau inbreeding akibat pejantan yang sama dipakai secara turun-temurun, serta kelangkaan pakan hijauan berkualitas setiap musim kemarau tiba.
Ketua tim pengabdian, Satria Budi Kusuma, S.Pt., M.Sc., memimpin langsung sesi sosialisasi konsep Buck Rotation System atau sistem rotasi pejantan kepada puluhan anggota kelompok yang memadati salah satu rumah warga di Dusun Sidomulyo. Dalam sistem ini, pejantan dipindahkan secara terjadwal antar blok kandang setiap tiga bulan sekali, sehingga satu ekor pejantan tidak lagi berkesempatan mengawini keturunannya sendiri. Satria menyatakan bahwa,“Dengan rotasi pejantan yang tertib dan didukung kartu recording silsilah, kita bisa memutus rantai perkawinan sedarah tanpa peternak harus mengeluarkan biaya membeli pejantan baru dari luar.”
Demo Pakan Fermentasi untuk Calon Induk
Selain sosialisasi, tim yang beranggotakan Dr. drh. Aan Awaludin, M.Sc., Nur Muhamad, S.Pt., M.Sc., dan Dr. dr. Raden Roro Lia Chairina, M.M., bersama tiga mahasiswa Program Studi Teknologi Pakan Ternak, juga menggelar demonstrasi langsung pembuatan pakan fermentasi atau silase berbahan limbah pertanian lokal seperti tebon jagung.
Bahan-bahan tersebut dicacah menggunakan mesin chopper, dicampur dengan aditif dedak dan bakteri asam laktat, lalu dipadatkan ke dalam drum dan kantong kedap udara untuk difermentasi secara anaerob selama 21 hari. Yang membedakan demo kali ini, formulasi pakan fermentasi sengaja disusun khusus untuk calon induk agar siklus birahi berjalan normal dan peluang keberhasilan kebuntingan atau conception rate meningkat.


“Genetik unggul dari hasil rotasi pejantan tidak akan optimal jika nutrisi calon induk buruk. Pakan fermentasi yang tepat membantu menstabilkan siklus birahi, sehingga peluang kebuntingan bisa lebih tinggi.”— Dr. drh. Aan Awaludin, M.Sc.
Pada kesempatan yang sama, tim pengabdian menyerahkan satu unit timbangan digital ternak kepada pengurus Kelompok Ternak Damar Wulan. Alat ini diharapkan membantu peternak mencatat bobot badan ternak secara akurat, melengkapi kartu recording silsilah yang mulai diperkenalkan dalam program ini. Kegiatan lapangan tidak berhenti di hari sosialisasi. Tim menjadwalkan kunjungan lanjutan sekitar 21 hari setelah pembuatan silase, untuk membuka silo dan mengevaluasi kualitas fisik pakan fermentasi tersebut — mulai dari aroma, warna, tekstur, hingga ada-tidaknya jamur yang bisa menandakan kegagalan proses fermentasi.
Pemahaman Peternak Meningkat
Untuk mengukur keberhasilan kegiatan, tim pengabdian masyarakat menyebarkan kuesioner sebelum dan sesudah sosialisasi kepada para peserta. Hasilnya, jawaban kuesioner pasca-kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta dibandingkan sebelum program berlangsung, khususnya pada dua materi inti: konsep Buck Rotation System dan teknik pembuatan pakan fermentasi berbasis bahan lokal.
Bagi tim pengabdian, capaian ini menjadi indikator awal bahwa materi yang disampaikan cukup mudah diterima oleh peternak, meski sebagian besar dari mereka baru pertama kali mengenal istilah seperti inbreeding, recording silsilah, maupun fermentasi anaerob. Para peserta berharap agar kegiatan semacam ini terus berlanjut di kesempatan berikutnya.

