
Puger, Jember – Salah satu pengembangan industri maritim di Kabupaten Jember terletak di bengkel produksi kapal nelayan tradisional yang beroperasi di area pelabuhan Puger. Meskipun menjadi pusat produksi, kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di bengkel ini masih kurang optimal, menimbulkan risiko kecelakaan bagi para perajin. Menyikapi permasalahan ini, Universitas Jember (UNEJ) melaksanakan sosialisasi K3 untuk kelompok perajin kapal nelayan Puger pada September 2024.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh tim dosen dari Kelompok Riset MARVEELS (Marine Research for Innovation, Efficiency, Eco Friendly And Safety), yang dipimpin oleh Hery Indria Dwi Puspita, bersama anggota Rudianto dan Lyya Supriono, serta beberapa mahasiswa. Indri, Ketua Tim Pengabdian, menjelaskan bahwa sosialisasi ini merupakan bagian dari Rencana Induk Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (RIPP) Universitas Jember Tahun 2021-2025, khususnya pada subtema kesehatan masyarakat di komunitas agrokostral.



Sosialisasi berlangsung di ruang pertemuan Unit Pengelola Teknis Pelabuhan Perikanan Pantai Puger (UPT PPP) dan dihadiri oleh 15 perajin kapal. Kegiatan dimulai dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta. Selanjutnya, materi sosialisasi disampaikan, mencakup penjelasan umum mengenai K3, berbagai jenis risiko yang mungkin terjadi, contoh kasus terkait risiko tersebut, serta solusi untuk mengatasi setiap risiko. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada berbagai jenis Alat Pelindung Diri (APD) yang relevan dengan pekerjaan di bengkel kapal.
Setelah penyampaian materi, sesi peragaan penggunaan APD dilakukan oleh mahasiswa dan peserta sosialisasi. Peragaan ini bertujuan untuk menunjukkan cara yang benar dalam menggunakan APD, termasuk helm, sarung tangan, masker, kacamata pelindung, dan pakaian pelindung lainnya. Antusiasme peserta terlihat jelas, terutama saat sesi peragaan, di mana banyak dari mereka yang aktif bertanya mengenai fungsi dan penggunaan APD.
“Melalui sosialisasi ini, peserta dapat mengembangkan kesadaran akan risiko yang ada di lingkungan kerja dan bagaimana cara mengurangi risiko tersebut melalui penggunaan APD yang tepat. Apalagi, bengkel kapal nelayan tradisional sebagai salah satu sektor informal seringkali terlewatkan dari paparan informasi mengenai K3,” ujar Indri.
Sebagai penutup, setelah sosialisasi dan peragaan penggunaan APD, peserta mengerjakan post-test untuk mengevaluasi pemahaman mereka. Tim juga memberikan cindera mata berupa APD kepada kelompok perajin kapal nelayan Puger, sebagai simbol komitmen dalam meningkatkan K3 di lingkungan kerja bengkel kapal tradisional. Dengan langkah ini, diharapkan risiko kecelakaan kerja dapat diminimalisir, dan keselamatan para perajin kapal nelayan Puger dapat terjaga dengan lebih baik.

